Apakah Aceh Siap Dengan Energi Transisi?

Energi Transisi adalah perubahan penggunaan energi dari energi fosil ke energi bersih yang ramah lingkungan. Kecendrungan perkembangan penggunaan energi secara global saat ini adalah menyiapkan diri menuju pada penggunaan energi bersih ramah lingkungan yang lebih sering disebut dengan energi terbarukan, karena sifanya yang bisa terbaharui yang berbeda dengan energi fosil seperti minyak bumi, gas bumi dan batu bara yang akan habis jarena tidak dapat terbaharui. Yang masuk dalam kelompok energi terbarukan adalah energi air (hydro), panasbumi, matahari, bioenergi, angin dan arus laut. Indonesia termasuk negara yang memiliki potensi energi fosil dan energi terbarukan terlengkap di dunia karena memiliki kedua kelompok tersebut. Hal yang sama juga dimiliki oleh Aceh. Bahkan Aceh sangat terkenal di masa lalu dengan produsen minyak bumi dan gas bumi kontributor terbesar Indonesia. Tapi itu hanya tinggal sejarah karena saat ini untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja harus di impor. Lihat saja contoh proyek re-gas yang ada di Arun. Karena itu wajar jika kita bertanya siapkah Aceh menghadapi energi transisi.

_Sektor listrik_

Kapasitas listrik terpasang di Indonesia pada tahun 2017 sebagai perbandingan mengukur kondisi kelistrikan Indonesia adalah sebesar 52.231 MW. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih mendominasi bauran energi Indonesia yaitu 24.883 MW atau 48% dari total kapasitas pembangkit di dalam negeri. Urutan berikutnya adalah pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) yang berbahan bakar gas sebesar 11.262 MW atau 22%. Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dan pembangkit listrik tenag mesin dan gas (PLTMG) sebesar 3.944 MW atau 8%. Porsi energi terbarukan (ET) dalam bauran energi nasional baru mencapai 6.370 MW (12%). ET merupakan potensi energi yang merata dimiliki Indonesia di seluruh pelosok tanah air baik di kota maupun dikampung dan pelosok desa terpencil, gunung2, lembah, kawasan hautan dan lain2.

Pada akhir tahun 2019, ternyata dari sekitar 62 Gigawatt (GW) total listrik yang terpasang, pembangkit listrik dari batu bara masih mendominasi bahkan naik menjadi 62.7%, gas 21.2%, minyak bumi 4%, sedangkan energi terbarukan malah turun menjadi 11,4%. Ini baru sektor kelistrikan, belum termasuk bahan bakar, bahan baku dan lain-lain yang porsi bauran energi terbarukannya masih sekitar 7-8%. 

Dalam Kebijakan Energi Nasional, sebetulnya Indonesia juga sudah menyiapkan diri menuju energi transisi dengan menargetkan pembangunan listrik dari energi terbarukan sebesar 45 GW sebagai bagian dari 23% target dalam bauran energi nasional pada tahun 2025. Target penggunaan batubara adalah 33%, gas 22% dan minyak bumi terutama untuk BBM dan kebutuhan industri adalah sebesar 17%. Target tersebut dapat tercapai dengan partisipasi masyarakat dan dukungan Pemerintah dalam pengembangan ET, terutama PV rooftop yang harganya diperkirakan akan semakin menurun di masa depan. Ini tentu saja belum cukup untuk memenuhi target EBT dalam KEN. Untuk Aceh,  saat ini diperlukan jaringan interkoneksi untuk memasok kebutuhan listrik Aceh dari Sumatra Utara. Hal ini disebabkan daya listrik yang tersedia dari Sumatra Utara lebih banyak dibandingkan dengan pembangkitan yang ada di wilayah Aceh. Walaupun dari sisi sumber energi primer, potensi pasokan sumber daya energi Aceh tidak kalah dengan Sumut. Aceh punya migas, batubara, dan ET seperti air, hutan energi, sawit, panasbumi, matahari, angin dan juga energi laut.

Hanya saja kelihatannya kita masih belum terlalu rela untuk mengembangkan energi terbarukan yang potensinya mencapai 441 GW dinseluruh Indonesia, jauh melebihi dari kapasitas terpasang listrik di seluruh Indonesia yang hanya 62 GW. Apabila di lihat potensi solar cell (energi matahari) seharusnya dapat memanfaatkan lebih basar dan bahkan bisa dimanfaatkan lebih dari 3%. Potensi panasbumi bahkan lebih fantastis, sebagai negara pemilik potensi 29 GW, potensi panasbumi  terbesar didunia.

Dimasa yang akan datang, penggunaan ET memang makin ditingkatkan, bukan saja karena sumber energi fosil (migas dan batubara) yang terus berkurang tetapi juga karena tuntutan serta komitmen untuk menuju pada penggunaan energi yang rendah karbon  lebih bersihdan berkelanjutan yang itu semua akan bertumpu pada ET. Kita sama2 tahu bahwa ET yang terletak dipelosok desa tidam akan dapat dipindahkan ke tempat lain sebelum di konversikan menjadi energi melalui jaringan interkoneksi. Ini berarti bahwa pengembangan ET akan dapat meningkatkan Ekonomi lokal atau ekonomi masyarakat setempat.

Memang ada dilemma yang dihadapi oleh pemerintah bagi Indonesia dalam melistriki seluruh penduduk melalui peningkatan rasio elektrifikasi. Elektrifikasi merupakan perbandingan antara rumah tangga yang telah terlistriki dan rumah tangga yang belum tersambung listrik. Bagaimana dengan kondisi elektrifikasi dan penyediaan energi di Aceh?

Seharusnya  peningkatan elektrifikasi Indonesia dapat dimanfaatkan Pemerintah dan Pemerintah Aceh dengan pemanfaatan energi terbarukan sesuai dengan komitmen Indonesia untuk pembangunan yang berkelanjutan dan masa depan anak cucu kita.

Bagi Aceh, ini jadi peluang besar karena energi terbarukan ada di kota dan seluruh pelosok desa baik dengan teknologi yang sudah dikuasai seperti mikro hidro, sumber energi yang pasti dimiliki semua orang yaitu matahari dengan teknologi solar panel dan pemasangan pada atap rumah dan lain2 ataupun biomassa yang memang sudah digunakan secara conventional. Mengingat pemakaian energi ini adalah kebutuhan tetap sehari hari, sementara penyediaannya yang makin terbatas dari energi fosil serta kenyataannya penggunaan ET masih sangat rendah, maka akan menjadi peluang dan kesempatan besar bagi Aceh untuk dapat menggunakan ET dalam pemenuhan energi untuk industri dan rumah tangga.

Gubernur Aceh harus berani menyiapkah dan menjadikan energi terbarukan sebagai salah satu sumber energi utamanya dalam penyediaan energi khususnya listrik untuk keperluan rumah tangga, transportasi dan Industri. Era elekcric vehicle, akan merubah pola hidup masyarakat dan harus menyiapkan diri dalam penggunaan ET.

Sebuah tantangan sekaligus motivasi dalam memperbaiki bauran energi penyediaan listrik di Tanah Air. Untuk itu diperlukan usaha yang kuat agar dalam mewujudkan energi bersih dan ramah lingkungan, perlu kesiapan dan kebijakan yang pasti.

Upaya untuk memanfaatkan ET perlu mendapatkan dukungan yang kuat tidak hanya pemerintah tapi juga masyarakat dan pelaku dunia usaha meski banyak keterbatasan dalam mewujudkannya. Namun, rasa optimistis tetap perlu ditanamkan kepada pemangku  kepentingan agar yakin bahwa Aceh juga sedang menyiapkan diri menuju transisi energi yang dicanangkan secara Global.

Penulis: Dr. Surya Darma – Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) & Ketua Umum PP TIM .

0 Reviews

Write a Review

Said Rulam Fauzi

Read Previous

Walikota Jakarta Timur Setujui Nama Laksamana Keumalahayati Menjadi Nama Jalan

Read Next

Bagaimana Merespon Ajakan Presiden Atasi Kemiskinan di Aceh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *