Ketika Masyarakat Aceh Ban Sigom Donya Saling Bertemu, Urun Rembuk dan Membangun Harapan

Memasuki usianya yang ke-70 tahun, Taman Iskandar Muda (TIM) telah mengagendakan serangkaian acara yang akan digelar pada Juli-Agustus 2020. Namun pandemi Covid-19 yang mulai merebak di tanah air semenjak bulan Maret 2020 telah membuat rencana kegiatan dalam rangka memperingati hari kelahiran TIM ditiadakan dan ditunda.

Salah satu acara monumental dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat Aceh adalah penyelengggaran halalbihalal setelah hari Raya Idul Fitri 1441H. Covid 19 yang diikuti dengan keharusan PSBB jelas membuat rencana kerja PPTIM yang satu ini tidak dapat untuk direalisasikan.

Berangkat dari kondisi pandemi Covid-19, PPTIM mencari cara dan upaya agar silaturrahim yang ingin dibangun melalui kegiatan halalbihalal dapat tetap dilaksanakan walau harus memakai format baru. Setelah melewati urun rembuk, PPTIM menyepakati halalbihalal dikemas dalam bentuk pertemuan secara Virtual dengan memanfaatkan aplikasi Zoom.

Bertemu secara virtual adalah sebuah transformasi kegiatan yang harus diterima oleh semua pihak. Sebuah cara dan upaya yang pada esensinya tidak menghilangkan makna dari halalbihalal itu sendiri.

Momentum Syawal untuk halalbihalal memang telah terlewati ketika pertemuan virtual menjadi keputusan organisasi. TIM tidak perlu merasa berkecil hati karena ada momentum lain yang tidak kalah menarik yaitu keinginan untuk memeriahkan kedatangan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriah. Sebutan Halalbihalal pun berubah menjadi Silaturrahim Hijriah.

Silaturrahim  Hijriah tidak sekedar merayakan datangnya Tahun Baru Islam, event silaturrahin yg tadinya bagian dari momentum Syawal dan mengisi rangkaian ulang tahun PP TIM akhirnya menemukan momentum tambahan yaitu Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke-75 tahun dan Peringatan MoU Helsinki/ Perdamaian Aceh yang ke-15 Tahun. 

Mengambil tema “Hikmah Covid 19 & Tantangan Bagi Aceh” Silaturrahim Hijriah diikuti para tokoh dan masyarakat Aceh, baik yang menetap di Aceh maupun di luar Aceh dan juga di manca negara seperti Amerika, Prancis, Belanda, Turki, Timur Tengah, Austria, India, Malaysia dan Australia.

Tidak sekedar bersilaturrahim, peserta kegiatan ini juga mendengarkan beberap pemaparan dari para tokoh, para teknokrat, politisi, agamawan dan pejabat pemerintah yang berwenang. Para peserta yang ikut mendaftar melalui Google form mencapai 900 orang lebih dan yang hadir dalam ruang virtual zoom sekitar 400 orang ini  juga menyampaikan pendapat dan harapan melalui chat room. Mereka yang hadir secara virtual datang dari beragam latar belakang profesi.

Tanggal Silaturrahiim Hijriah itu sangat monumental, tepat pada 1 Muharram 1442 atau 20 Agustus 2020. Sebuah momentum waktu yang cukup tepat untuk melakukan ‘Hijrah’ bagi seluruh peserta yang hadir dalam ruang virtual zoom. Bagi PP TIM, penggunaan ruang virtual itu sendiri merupakan bagian dari implementasi hijrah. Dulu sebuah pertemuan mengharuskan kita bertemu pada suatu tempat, berjabat tangan dan berbicara tatap muka. Kini jabat tangan cukup diganti dengan emoticon, bertemu dan berbicara cukup saling pandang pada layar gadget masing-masing dan menggunakan headset. Sebuah terobosan teknologi yang yang belum lumrah dilakukan oleh banyak orang dibeberapa tahun yang lalu, dan pandemi  Covid-19 yang akhirnya mengharuskan kita mengadopsi teknologi dan memetik ibrah.

Adalah Plt. Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah, MT., yang diminta untuk membuka acara sekaligus juga berkenan menutup Silaturrahim Hijriah yang durasinya hampir 5 jam ini. Dibuka jam 13.00 WIB dan ditutup jam 17.40 WIB. Posisi Plt. Gubernur sampai kembali bisa menutup acara ini mengindikasikan bahwa  Nova Iriansyah sebagai pemimpin tertinggi di Aceh saat ini telah mengikuti keseluruhan rangkaian acara Silaturrahim Hijriah Taman Iskandar Muda. Sebuah sikap positif dari pemimpin yang patut kita apresiasi.

Banyak Harapan, masukan dan kritikan. Ada yang berharap Aceh kembali punya airlines sendiri. Ada yang meminta Aceh membuat platform kerja 10 tahun, 20 tahun bahkan 50 tahun kedepan agar setiap pergantian pemimpin punya guide line menjalankan pemerintahan Aceh. Kedepan Aceh harus bisa mandiri. Hari ini hampir semua hal, utamanya  ekonomi Aceh mengalami ketergantungan dengan provinsi tetangga, kritik salah satu peserta.

Dalam konteks Covid-19, pemateri dan peserta meminta secara tegas agar masyarakat Aceh mematuhi protokol kesehatan, agamawan dan tokoh masyarakat perlu lebih pro aktif untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya pandemi ini. Akademisi  dan ilmuwan Aceh pun mengutarakan kesiapan mereka membantu Pemerinta Aceh dalam memerangi Covid-19, tinggal bagaimana leadership mampu membangun sinergi dari seluruh potensi yang ada.

Kedepan saatnya kita bergandengan tangan, kritikan demi kritikan rasanya tidak perlu pada topik dan permasalahan yang sama, jika itu terjadi berarti kita abai terhadap kondisi bobrok yang ada disekitar kita. Pesimisme dari sebagian kalangan  terhadap tokoh-tokoh Aceh yang hebat namun belum mampu bersatu itu harus kita tepis dengan  lebih mengeratkan persatuan, melakukan aksi secara proaktif dan kerja nyata. Semua harus bergandengan tangan dan melepaskan ego pribadi dan sektoral.  Lembar  Sejarah menukilkan  Aceh adalah bangsa yang besar dengan tokoh-tokoh yang hebat yang punya andil besar memerdekakan Indonesia. Aceh adalah daerah modal, begitu ungkap Soekarno pada Juni 1948 di lapangan Esplanade (Blang Padang) dan pada Rapat Raksasa di Bireuen. Gelar yang kemudian ditoreh dalam buku-buku sejarah. Sebuah torehan yang sangat membekas dalam jiwa orang-orang Aceh sehingga setelah kemerdekaan pun Aceh masih memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia.

Kini tugas besar Aceh adalah menyelesaikan banyaknya pekerjaan rumah. Pembangunan ekonomi yang harus ditingkatkan ditengah pandemi yang belum ada kepastian kapan akan berakhir, narkoba yang masih menjadi headline, dekadensi moral, rendahnya kualitas pendidikan secara umum dan juga rendahnya minat baca yang diikuti minimnya literasi bermutu pada  perpustakan-perpustakan di seluruh Aceh.

‘Kita Pasti Bisa’ , demikian sebuah komentar yg dikirim ke chat room oleh peserta Silaturrahim Hijriah. Pesan singkat itu mudah-mudahan bisa menyemangati kita semua sebagai anak bangsa Aceh, titisan darah dari para pejuang hebat dimasa lalu. Mari kita buat  Road map bagaimana posisi Aceh pada 2045 dan seterusnya, mari menjadi spearhead dalam menuntaskan permasalahan yang ada, kita harap kedepan Aceh tidak saja mampu menyelesaikan tantangan yang ada di lokal tapi bisa menjadi spearhead dalam menjawab tantangan nasional, hingga pada akhirnya orang yang dilahirkan dari  tanah para aulia diujung barat Indonesia itu harus mampu membangun Indonesia, seperti yang telah ditunjukkan oleh para Sultan/ raja Aceh dan pahlawan-pahlawan besar Aceh, pejuang kemerdekaan. Sebuah harapan kita tumbuhkan,  kita harus punya ‘hope’– tegas Prof.Dr. Bachtiar Aly-sang moderator Silaturrahim HIjriah, ya, bila harapan itu punah maka tak banyak yang dapat kita lakukan. Nothing can be done without hope and confidence ungkap pendidik dan penulis Amerika Hellen Keller.[SRF]

0 Reviews

Write a Review

Said Rulam Fauzi

Read Previous

TIM Gagas “Silaturrahim Hijriah Taman Iskandar Muda” secara virtual.

Read Next

Silaturrahim TIM dan Kick Off Pendataan Anggota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *