Tun Sri Lanang

Referensi Tun Sri Lanang*

Siapakah Tun Sri Lanang? Ternyata kebanyakan orang Aceh sendiri tak mengenalnya. Bukan hanya para pejabat daerah setempat, bahkan warga Samalanga atau Bireuen banyak yang tidak tahu siapa itu Tun Sri Lanang. Padahal Tun Sri Lanang merupakan seorang ahli pemerintahan dan pujangga Melayu dengan karyanya yang monumental berupa kitab Salalatus Salatin. Di Singapura, sosok Tun Sri Lanang merupakan sosok sangat penting bagi Singapura, karena tanpa Tun Sri Lanang lewat kitab Salalatus Salatin, tidak akan ada sejarah Singapura, karena yang ada adalah sejarah modern sejak pemerintahan Rafless.Bahkan penghargaan karya sastra tertinggi di Singapura mengabadikan nama Tun Sri Lanang. Kalau di Malaysia nama Tun Sri Lanang sudah tidak asing lagi karena namanya diabadikan sebagai nama sekolah dan perguruan tinggi.

Tun Sri Lanang, bernama asli Tun Muhammad Anak Tun Ahmad, lahir di Selayut, Batu Sawah, Johor Lama, pada tahun 1565 M, adalah di antara sekitar 22.000 tawanan perang yang ditahan pasukan Sulthan Iskandar Muda (1607-1636) dalam penyerbuan ke Semenanjung Malaya pada 1613 M dan kemudian dibawa ke Aceh, beserta petinggi yang lain diantaranya adalah Raja Husein (Iskandar Thani), Puteri Pahang atau nama aslinya Puteri Kamaliah (Putroe Phang) orang Aceh menyebutnya. Tun Sri Lanang dikenal sebagai penyunting dan penyusun Sulalatus Salatin.

Menurut Linehan (1936), Pemerintahan Sultan Iskandar Muda memindahkan sekitar 22.000 penduduk Semenanjung Melayu ke Aceh dikarenakan penduduk Aceh telah berkurang drastis karena perang selama 130 tahun. “The whole territory of Acheh was almost depopulated by war. The king endeavoured to repeople the country by his conquests. He transported the inhabitants from Johore, Pahang, Kedah, Perak and Deli to Acheh the number of twenty-two thousand persons.” (Linehan, W. 1936). Sebagian besar dari ke 22.000 warga pindahan itu ditempatkan di Samalanga (Kab. Bireuen) dan Seulimuem (Kab. Aceh Besar).

Saat ditawan, Tun Sri Lanang sedang menjabat sebagai Datok Bendahara kepada Paduka Raja Tun Muhammad Orang Kaya Kerajaan Johor Lama di Batu Sawar, Pewaris Kerajaan Kesultanan Melaka, 1557 – 1613 M. Tun Sri Lanang, selain seorang Bendaharawan, juga adalah seorang penulis. Ketika ditawan dan dibawa ke Aceh pada 1613 M, Tun Sri Lanang telah menuliskan sebagian dari naskah Sulalatus Sulatin yang kemudian dirampungkannya di Aceh.

Pada 1613 M, beliau kemudian diangkat oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam menjadi Raja Perdana Ulee Balang Pertama VI Mukim Negeri Samalanga Aceh Darussalam dengan gelaran Datuk Bendahara Tun Muhammad Seri Lanang, setelah untuk beberapa lama menjabat sebagai Penasihat Sultan dengan gelar Orang Kaya Datuk Bendahara Sri Paduka Tun Sebrang, dan Sulthan Iskandar Muda memberikan wilayah kekuasaannya di Samalanga yang dibatasi dengan Krueng Ulim dan Krueng Jempa (AK Yakobi: 1997: 40 – 48).

Tun Sri Lanang adalah orang yang membangun Mesjid Raya Samalanga pada abad XVII. Peletakan batu pertama untuk Mesjid tersebut dilakukan oleh Sultan Aceh Darussalam ke-22, Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam. Mesjid raya ini sekarang dikembangkan oleh lembaga MUDI MESRA (Ma’had ‘Ulumul Diniyah Mesjid Raya) Pimpinan Tgk. Hasan Noel yang pada saat ini memiliki sekitar 3.000 santri.

Rumah bekas kediaman Raja Samalanga pertama ini, dikenal sebagai “Rumoh Krueng”, telah dipugar meskipun beberapa bagian masih menggunakan kayu dasarnya dan sudah terlihat keropos dimakan rayap. Di sebelah kirinya, berjarak sekitar 50 meter, disemayamkan jasad Tun Sri Lanang dan orang-orang dekatnya, pada satu kompleks pekuburan yang sederhana.

Tun Sri Lanang, sang pengarang kitab Sulalatus Salatin, bacaan wajib di sekolah-sekolah Melayu, dikenang juga dengan gelaran tidak resmi “Gajah Mada Dunia Melayu”. Di antara kesamaan Tun Sri Lanang dengan Gadjah Mada (sepertinya nama sebenarnya) adalah :

1) Penyatuan, Gajah Mada menyatukan pulau-pulau di Nusantara, sementara Tun Sri “menyatukan” Melayu karena menurunkan garis keturunan bangsawan di Malaysia dan di Aceh. Di Malaysia, garis keturunannya di antaranya adalah Sultan-sultan Pahang, Johor, dan Selangor. Sedangkan di Aceh, telah ada keturunan ke – 8 Beliau yang saat ini juga Ketua Yayasan Tun Sri Lanang, Pocut Haslinda Syahrul;

2).Sama-sama meninggal di Aceh, Tun Sri meninggal di Samalanga pada 1659 M, sementara Gadjah Mada di Manyak Payet, Tualang Cut, Kuala Simpang.

Di Negeri Johor Malaysia Tun Sri Lanang menikah dengan Tun Aminah binti Tun Kadut bin Seri Amar Bangsa Tun Ping bin Tun Hasan bin Tun Biajid Rupat bin Bendahara Seri Maharaja, dari pernikahannya dengan Tun Aminah mempunyai empat anak yaitu tiga orang laki-laki dan satu perempuan.

Yang laki-laki bernama :

1. Tun Anum (BSM)

2. Tun Mat Ali (BPM)

3. Tun Jenal dan (BS/BPR)

4. Tun Gembuk

Setelah di Aceh Tun Sri Lanang menikah lagi dan mempunyai seorang anak bernama Tun Rembau bergelar Teuku Tjik Di Blang Panglima Perkasa32 Dalam sejarah melayu anak cucu Tun Seri Lanang kemudian menjadi para bangsawan di Malaysia, yaitu Sultan di Trengganu, Johor, Pahang dan Selangor. Pada tahun 1613 setelah peristiwa Batu Sawar Tun Sri Lanang hijrah ke Aceh Darussalam bersama keluarga Sultan Alauddin termasuk adiknya Raja Bungsu dan bersama mareka dibawa dua ribu penduduk Johor ke Aceh dan kemudian bermukim di Samalanga. Secara tradisional Jabatan penting dalam Kesultanan Melayu merupakan jabatan warisan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menurut satu riwayat setelah Tun Sri Lanang pindah ke Aceh dan putra tertua di Malaysia bernama Tun Anum diangkat menjadi Bendahara Johor berikutnya. kemudian Tun Anum ini diduga meninggal dunia bersama pembesar Johor lainnya akibat wabah penyakit pada tahun 1642 dan di makamkan di Makam Tauhid ( Makam Sayed). Setelah Tun Anum mangkat adiknya yang bernama Tun Jenal diangkat menjadi Bendahara dengan gelar Paduka Raja atau Bendahara Sekudai. Tun Jenal merupakan bendahara Johor yang berjasa melepaskan Malaka dari penjajah Portugis tahun 1941 Masehi. Peristiwa pelepasan malaka dari Portugis tercatat dalam hikayat Hang Tuah.

Keturunan Tun Jainal bergelar Bendahara Paduka Raja (BPR) alias Datuk Sekudai ini mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Said Zainal Abidin dari Aceh yang mempunyai seorang anak perempuan bernama Dato Maharaja Diraja. Dato Maharaja Diraja mempunyai dua orang putra yang bernama Sayid Jak’far alias Datuk Pasir Raja dan Habid Abdullah BSM

Peristiwa Laut

Pemerintahan Kerajaan Islam Aceh Darussalam menerapkan pendekatan lunak maupun tegas untuk menjaga keutuhan wilayahnya, dari ancaman disintegrasi bangsa baik yang bersumber dari dalam negeri maupun luar negeri. Strategi lunak yaitu “politik meubisan” dan “rotasi pimpinan daerah taklukan Aceh”. Kalau jalan ini tidak berhasil Sultan akan mengerahkan angkatan perangnya menundukkan daerah taklukannya yang melawan terhadap kebijakan pusat.

Politik meubisan ini seperti pernah dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda dengan mengawinkan adiknya dengan Sultan Abdullah Ma’ayat Shah. Kemudian Sultan Murka karena adik yang dicintainya diceraikan oleh Sultan Abdullah. Iskandar Muda memerintahkan pasukannya untuk membumi hanguskan Batu Sawar, ibu kota Kerajaan Johor Lama pada tahun 1623. Abdullah-pun mangkat dalam pelarian di Pulau Tembelan.

Politik meubisan berhasil juga menundukkan Perak dan Pahang. Setelah pembesar-pembesar pahang mengetahui anak negerinya Raja Mughal anak Sultan Ahmad dinobatkan sebagai sultan Kerajaan Islam Aceh Darussalam menggantikan Iskandar Muda pada tahun 1637 M, Adik Sultan Iskandar Tsani, Raja Sulong menjadi Sultan Perak ke-10 dengan gelar Sultan Muzaffar Shah II maka rakyat ke dua negeri langsung melakukan ikrar kesetiaan mendukung keutuhan Kerajaan Islam Aceh Darussalam.

Tun Seri Lanang atas saran Putri Kamaliah, Sultan Iskandar Muda menjadikannya raja pertama ke Samalanga. Rotasi pimpinan ini sering ditempuh guna mencegah terjadinya pemberontakan raja-raja yang mendapat dukungan rakyat.

Penobatan Tun Sri Lanang menjadi raja Samalanga mendapat dukungan rakyat, karena di samping dia ahli dibidang pemerintahan juga alim dalam ilmu agama, Sultan Iskandar Muda mengharapkan dengan penunjukan ini akan membantu pengembangan Islam di pesisir timur Aceh. Penentangan yustru muncul dari beberapa tokoh masyarakat yang dipimpin oleh Hakim Peut Misei yang menginginkan kelompoknyalah yang berhak menjadi raja pertama Samalanga.

Alkisah menurut penuturan orang orang tua di sana. Setelah Hakim Peut Misei dan 11 orang pemuka negeri lainnya bersama rakyat setempat selesai membuka negeri Samalanga, bermusyawarahlah mareka siapa yang berhak menjadi raja pertama. Di antara panitia yang terlibat dalam persiapan pengukuhan keuleebalangan Samalanga dan daerah takluknya, terjadi pergaduhan dan atas saran masyarakat agar ke 12 orang panitia ini menghadap sultan Iskandar Muda, biarlah sultan yang akan menentukan pilihan terbaiknya untuk memimpin negeri pusat pendidikan Islam ini.

Sayup-sayup Puteri Pahang pun mengetahui rencana pertemuan 12 tokoh masyarakat yang akan menghadap sultan. Ia menginginkan ke-uleebalangan Samalanga dan daerah takluknya diisi oleh Datok Bendahara bergelar Tun Sri Lanang yang tiada lain adalah saudaranya sendiri. Siasat diatur cara ditempuh, Tun Seri Lanang diperintahkan berlayar ke Samalanga, berpura puralah ia sebagai seorang nelayan yang kumuh tetapi ahli melihat bintang. Rencana Putri Pahang Tun Sri Lanang harus duluan tiba di Samalanga dan ke 12 tokoh masyarakat ini diusahakan menggunakan jasa dia untuk berlayar ke kuala Aceh menghadap Baginda.

Pada hari yang telah disepakati bersama, berangkatlah 12 orang panitia menghadap tuanku sultan dengan didampingi seorang pawang dari kuala Samalanga menuju kuala Aceh. Ke 12 orang ini mengatur sembah sujud kehadapan baginda dan mengutarakan maksud dan tujuan menghadap Daulat Tuanku Meukuta Alam. Mareka meminta kepada tuanku agar salah satu dari mareka dinobatkan menjadi uleebalang pertama Samalanga. Sultan setelah meminta pendapat orang orang besar kerajaan dan Puteri Pahang setuju menobatkan salah satu dari mareka menjadi raja pertama asal cincin kerajaan yang telah disiapkan oleh Puteri Pahang cocok untuk jari kelingking mareka.

Setelah dicoba satu persatu, cincin kerajaan ini terlalu besar untuk dipakai pada 12 orang tersebut. Puteri Pahang menanyakan pada mareka apa ada orang lain yang tidak dibawa ke balai rung istana? Mareka dengan hati kesal menjawab memang masih ada tukang perahu. Tun Seri Lanangpun dihadapkan kehadapan Sultan, cincin kerajaan sangat cocok untuk jari kelingkingnya.

Iskandar Muda menobatkan Tun Seri Lanang menjadi raja pertama Samalanga. Sewaktu mareka pulang Tun Seri Lanang dibuang di tengah laut di kawasan laweung kejadian ini dikenal dalam masyarakat Samalanga Peristiwa Laut. Maharaja Lela Keujroeun Tjoereh (Laweung) menyelamatkannya dan bersama T. Nek Meuraksa Panglima Nyak Doom menghadap Baginda dan memberitahukan penemuan Tun Seri Lanang di Tengah Laut. Baginda Murka dan memerintahkan Maharaja Goerah bersama T. Nek Meuraksa Panglima Nyak Doom dan Maharaja Lela Keujroeun Tjoereh menemani Tun Seri Lanang ke Samalanga. Hakim Peut Misee dan 11 orang panitia persiapan keuleebalangan dihukum pancung oleh sultan.

Tun Sri Lanang menjadi uleebalang pertama Samalanga pada tahun 1615-1659 M dan mangkat di Lancok Samalanga. Pada masa pemerintahannya berhasil menjadikan Samalanga sebagai pusat pengembangan Islam di kawasan timur Aceh, dan tradisi ini terus berlanjut sampai dengan saat ini. Beberapa mesjid di sana di bangun pada zamannya seperti Mesjid Matang Wakeuh, Tanjungan.

Keturunan Tun Sri Lanang di Aceh Tun Rembau yang lebih dikenal dengan panggilan T. Tjik Di Blang Panglima Perkasa menurunkan keluarga Ampon Chik Samalanga sampai saat ini dan tetap memakai gelar Bendahara diakhir namanya seperti Mayjen T. Hamzah Bendahara. Sedangkan sebagian keturunannya kembali ke Johor dan menjadi bendahara (Perdana Menteri) di sana seperti Tun Abdul Majid yang menjadi Bendahara Johor, Pahang, Riau, Lingga (1688-1697). Keturunan Tun Abdul Majid inilah menjadi zuriat Sultan Terengganu, Pahang, Johor dan Negeri Selangor Darul Ihsan hingga sekarang ini.

#sumber Fb Sejarah Kesultanan Aceh Darussalam.

DN Aidit Bekas Santri yang Jadi Gembong PKI

Pwmu 2021/09/10 21:03

DN Aidit Bekas Santri yang Jadi Gembong PKI, ditulis oleh Nur Chilis Huda, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur; penulis buku-buku inspiratirf.

PWMU.CO – September merupakan bulan hitam bagi Indonesia. Dua kali PKI menikam dari belakang. Pemberontakan Madiun September 1948. Lalu diulang lagi September 1965 lewat G30S. Tulisan ini untuk mengingat September Hitam itu.

Masih ingat nama DN Aidit? Setelah pemberontakan G30S/PKI gagal, masyarakat antikomunis nggeruduk rumah dinas DN Aidit, tokoh tertinggi PKI. Tapi orangnya sudah melarikan diri dan bersembunyi, entah di mana. Dari rumah itu Prof Salim Said, seorang wartawan yunior saat itu, mendapatkan pitam rekaman

“Saya menduga rekaman itu berisi dokumen politik penting. Ketika rekaman itu kami putar, ternyata isinya pengajian Islam yang dimulai dari pembacaan ayat suci al-Quran. Di kemudian hari saya mendapat informasi, pada masa kecil di kampungnya Aidit beberapa kali menamatkan kita suci al-Quran. Konon juga dikenal di lingkungannya sebagai pembaca al-Quran yang fasih,” tulis Salim dalam bukunya “Gestapu 65, PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto”.

Bahkan Aidit karena punya suara yang keras dan lantang sering menjadi muadzin. Saat itu belum banyak pengeras suara. Juga karena ngajinya bagus dan suara jelas maka sering diminta menjadi qari’ dalam pengajian.

Bagaimana seorang yang tekun mengaji, muadzin, seorang qari’ bisa menjadi orang pertama dalam Partai Komunis Indonesia? Otak G30S/PKI yang dahsyat itu?

Masa Kecil Aidit

Menururt Wikipedia, masa kecilnya tumbuh dalam keluarga yang sangat religius. Nama aslinya Ahmad Aidit. Orang sekitar memanggilnya Amak. Setiap hari setelah pulang sekolah, Amak dan adik-adiknya belajar mengaji diasuh Abdurrahim, pamannya. Orang-orang sekampung mengenal Achmad sebagai anak yang alim, rajin ke masjid dan pandai mengaji.

Ayahnya, Abdullah Aidit berasal dari Minangkabau lalu hijrah ke Belitung. Abdullah aktif dalam kegiatan Islam, dihormati masyarakat Belitung. Pelopor pendidikan. Dia salah seorang pendiri sekolah Nurul Islam di Belitung yang berpaham Muhammadiyah.

Ahmad Aidit lahir di Belitung 30 Juli 1923. Ayah dan ibunya sangat religius dan dihormati masyarakat Belitung. Ahmad Aidit kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Dagang di Jakarta. Dari situ dia mengenal politik. Dia belajar teori Marxis melallui Perhimpunan Demokrtatik Sosial Hindia Belanda yang di belakang hari berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Nampaknya pendididkan agama Aidit waktu kecil belum cukup kuat melawan komunisme yang dianggap lebih progresif.

Lewat aktivitasnya dia mengenal tokoh-tokoh utama Indonesia seperti Bung Karno, Bung Hatta, Chairul Saleh, Adam Malik Moh. Yamin dan tokoh lainnya. Kecakapan dan kecerdasan Aidit membuat Bung Hatta berharap banyak kepadanya. Dia menjadi orang kesayangan Hatta. Namun ketika Hatta tahu garis politik Aidit maka keduanya berpisah jalan.

Pergaulan Aidit terus meluas. Dia lalu membuang nama Ahmad. Mungkin merasa tidak nyaman. Lalu diubah menjadi Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit. Dia berusaha membangun kembali komunis setelah terpuruk akibat pemberontakan Madiun September 1948.

Dibuatnya organisasi sayap. Ada Pemuda Rakyat untuk pemuda, Gerwani untuk ibu-ibu. BTI untuk petani. Lekra untuk seniman. Dia juga mendukung Marhenisme untuk mengambil hati Bung Karno. Dia berkunjung ke Uni Soviet dan RRT demi kemajuan komunis. AkPemilukada komunis di Indonesia menjadi tiga besar di dunia setelah Uni Soviet dan RRT. Dalam Pemilu tahun 1955 PKI behasil menjadi partai empat besar, setelah PNI, Masyumi, dan NU.

Aidit semakin dekat Bung Karno. Dia diangkat menjadi menteri koordinator dan Wakil Ketua MPRS. Dia juga berhasil mendorong Bung Karno membubarkan Masyumi dan PSI. Kedudukan PKI semakin kokoh ketika Bung Karno mencetuskan Nasakom (nasional, agama, dan komunis) sebagai tiang utama pembangunan Indonesia yang revolusioner.

Tetapi DN Aidit belum puas dengan apa yang dicapai. Keinginannya adalah berkuasa dan mengganti Pancasila dengan paham komunis. Apalagi menurut dia,Bung Karno mulai sakit-sakitan. Jika Bung Karno meninggal maka tempat bersandar tidak ada. Maka berkuasa harus dipercepat. Aidit lebih cenderung pada cara Mao Zedung dari RRT yaitu merebut kekuasaan. Bila perlu dengan kekerasan, seperti yang dilakukan di RRT. Kelompok antikomunis paling kuat kini tinggal angkatan bersenjata, terutama Angkatan Darat.

Maka dalam pemberontakan G30S/PKI enam jendral utama Angkatan Darat dan seorang perwira diculik. Lalu dibunuh secara keji dengan alasan mereka ini akan menggulingkan Bung Karno lewat gerakan Dewan Jenderal. Hanya Jenderal Nasution yang lolos. Tetapi anaknya, Ade Irma Suryani Nasution mati tertembak oleh para penculik. Pak Harto tidak menjadi target karena saat itu sebagai jenderal yang mungkin ketokohannya dianggap belum menonjol.

Namun dalam waktu singkat, tidak sampai dua hari, atas komando Soeharto tempat-tempat vital seperti RRI, PLN, dan Bandara Halim Perdana Kusuma yang dikuasai pemberontak] berhasil direbut kembali oleh Angkat Darat terutama lewat pasukan RPKAD atau sekarang disebut Kopassus. Sejak itu pemberontakan telah digagalkan. Para tokoh pelakunya diburu. Tentu saja DN Aidit menjadi salah satu target utama.

Kematian Tragis Bekas Santri

Kolonel Yasir Hadibroto saat itu berada di Sumatera Utara untuk operasi ganyang Malaysia. Setelah terjadi G30S/PKI dia dan pasukannya dipanggil ke Jakarta. Langsung menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto. Mendapat tugas baru.

“Kolonel Yasir, di mana kamu dulu ketika terjadi pemberontakan Madiun tahun 1948?” tanya Suharto.

“Saya waktu itu baru dihijrahkan dari Jawa Barat. Kompi saya lalu mendapat tugas menghadapi tiga bataliyon komunis di daerah Wonosobo Pak,” jawab Yasir.

“Nah, yang memberontak sekarang adalah anak-anak PKI Madiun dulu. Sekarang bereskan itu semua. DN Aidit ada di Jawa Tengah. Bawa pasukanmu ke sana.”

“Siap Kerjakan!” jawab Jasir, seperti dia kisahkan kepada Kompas, 5 Oktober 1980.

Aidit pergi ke Yogyakarta. Mula-mula tidak untuk melarikan diri tetapi melakukan konsolidasi partai. Aidit lalu pergi ke Semarang, Boyolali, Blitar, dan Surakarta. Dia juga berkeliling Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun akhirnya Aidit tidak bisa berbuat banyak setelah RPKAD mengobrak-abrik semua kekuatan PKI.

Yasir tidak tahu Aidit di mana bersembunyi. Ada dugaan di daerah Surakarta karena wali kotanya adalah kader utama PKI. Tapi di mana dia bersembunyi? Kolonel Yasir lalu melibatkan Sri Harto, seorang intel AD yang diselundupkan ke PKI. Sri Harto bahkan ikut ditahan. Lalu dilepas dari tahanan untuk melacak keberadaan Aidit. Sri Harto berkawan baik dengan banyak kader PKI. Sri Harto telah berhasil mendekati pengawal Aidit, mendapat informasi dan kepercayaan dari mereka.

Dalam pengakuan kepada Kompas, 29 September 1985, Sri Harto tahu informasi tempat Aidit dari Siswadi, Ketua Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) Surakarta. Malah Siswadi minta tolong kepada Sri Harto untuk dicarikan rumah tempat persembunyian Aidit. Kesempatan itu dipergunakan Sri Harto melapor dan merencanakan penyergapan. Kolonel Yasir lalu melakukan strategi pengelabuhan agar para penjaga Aidit berkurang kewaspadaannya.

Kolonel Yasir mengadakan sebuah apel yang bisa disaksikan masyarakat umum. Yasir menyatakan bahwa Kota Surakarta kini aman. Para prajurit diperbolehkan cuti sepekan. Sementara itu Sri Harto semakin dipercaya membantu persembunyian Aidit. Bahkan akhirnya Sri Harto yang dipercaya membawa Aidit pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tentu saja keberadaan Aidit selalu bisa diketahui Yasir lewat Sri Harto yang membawa Aidit.

Penangkapan Aidit telah ditetapkan. Sri Harto membawa Aidit bersembunyi di rumah Kasim, seorang kader PKI. Pukul 19.00 dilakukan penyergapan. Tetapi anehnya Aidit tidak ditemukan di rumah Kasim. Padahal Sri Harto sendiri yang membawa Aidit ke rumah itu. Akhirnya Kasim dipanggil. Dari interogasi, Kasim mengatakan bahwa Aidit bersembunyi dalam almari. Tertutup pakaian dan ada pintu rahasia. Dengan keterangan Kasim akhirnya Aidit dapat ditangkap.

Ketika ditangkap Aidit sempat menggertak: “Kamu tahu yang kamu hadapi ini Menko dan Wakil Ketua MPRS!”. Sejenak pasukan itu tertegun. Tetapi segera tenang lalu Aidit tetap ditangkap. Kepada Jasir Aidit minta dipertemukan dengan Bung Karno untuk mengambil keputusan. Tetapi tidak dikabulkan. Jasir berpendapat kalau diserahkan Bung Karno maka urusannya jadi berubah.

Setelah ditangkap dengan diborgol Aidit dibawa ke Boyolali. Jasir kemudian membelokkan mobilnya ke markas Bataliyon 444. Lalu bertanya kepada Mayor Trisno, komandan Bataliyon, apakah ada sumur di tempat itu. Trisno menunjuk sumur tua di belakang markas. Di tepi sumur itu Aidit diberi kesempatan untuk menyampaikan kata terakhir.

Namun Aidit menggunakan kesempatan itu berpidato berapi-api. Seruan terus menghidupkan PKI. Pasukan emosi dan tidak sabar. Untuk menghentikan pidato Aidit maka beberapa peluru menembus tubuhnya. Aidit meninggal. Diduga mayatnya dimasukkan ke dalam sumur tua itu. Setelah ditimbuni tanah lalu ditutup dengan pohon pisang dan lainnya. Sampai sekarang tidak diketahui di mana persisnya kubur Aidit.

Ketika Kolonel Jasir bertemu Soeharto dan melaporkan bahwa Aidit sudah diberesakan seperti yang dipeintahkan, Pak Harto hanya tersenyum.

Pelajaran

Pelajaran apa yang bisa diambil dari kehidupan Aidit? Seorang santri yang dimasa kecilnyha tekun mengaji bisa menjadi tokoh utama komunis. Aidit menjadi komunis setelah di Jakarta. Pergaulan dan lingkungan bisa sangat menentukan langkah dan pilihan hidup kita.

Hidup memang menghadapi banyak persimpangan jalan. Ingat pesan al-Qur’an al-An’am 154: Waanna hazda siraati mustaqiman fattabiuhu  (inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah).

Nabi ketika membaca kalimat ini membuat satu garis lurus. Lalu membaca lanjutan ayat: wa la tattabius subula fatafaraqa bikum an sabilihi

(dan jangan ikuti banyak jalan ini. Kamu bisa berpisah dengan jalan Tuhanmu). Membaca ayat itu Nabi membuat coretan banyak di kiri kanan dari jalan lurus itu. Ini menggambarkan demikian banyak cabang jalan yang menyesatkan kita dari jalan lurus itu.

Aidit melangkah tidak di jalan lurus, tetapi belok ke cabang jalan di kiri kanan jalan lurus. Maka dia berpisah jauh dari jalan Tuhan.

Itulah sebabnya setiap shalat kita mohon ditunjukkan jalan yang lurus. Ihdinas shirathal musatqim.  Tunjukkanlah hamba jalan yang lurus.

Bukan jalan cabang kiri kanan yang membuat orang tersesat. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

0 Reviews

Write a Review

admin

Read Previous

Prof. DR. Syamsuddin Mahmud (Pak Syam) Tutup Usia, Selamat Jalan Guru Bangsa.

Read Next

DIASPORA ACEH GLOBAL (DAG) TERBENTUK

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *