DIASPORA ACEH GLOBAL (DAG) TERBENTUK

Diaspora Aceh Global (DAG) secara resmi dibentuk oleh Taman Iskandar Muda bersama para Diaspora Aceh di seluruh dunia secara formal pada tanggal 22 Agustus 2021 setelah  Formatur Diaspora Aceh Sejagad menandatangani Keputusan Formatur untuk Pembentukan Organisasi dan Pengurus Organisasi DAG. Formatur Diaspora Aceh yang terdiri dari Fachry Ali (Ketua merangkap Anggota), Joefly J. Bachroeny (Anggota) dan Umaimah Wahid (Anggota), bersepakat setelah melakukan konsultasi dengan Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PPTIM) yang dihadiri oleh Ketua Umum PPTIM Surya Darma dan Sekretaris Umum Yusra Huda serta Ketua Dewan Kehormatan PPTIM Mustafa Abubakar pada tanggal 28 Juli 2021 dan 22 Agustus 2021.

Kepengurusan Organisasi DAG terdiri dari Dewan Kehormatan yang berfungsi mengawasi dan membina serta Dewan Eksekutif yang terdiri dari 13 orang personil tokoh senior para Diaspora Aceh dari berbagai profesi. Dewan Kehormatan dipimpin oleh Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil dan Ketua Umum PPTIM secara ex-officio menjadi anggota Dewan Kehormatan Bersama Gubernur Aceh dan Gubernur DKI Jakarta. Sedangkan Pengurus dipimpin oleh Mustafa Abubakar sebagai Ketua Umum dan Said Mustafa sebagai Sekretaris Jenderal serta Teuku Anwar Djohansyah sebagai Bendahara umum. Dalam menjalankan kegiatan, ketua Umum didampingi oleh enam orang wakil ketua umum. Sedangkan Sekretaris Jenderal didampingi tiga orang Wakil Sekjen dan Bendahara Umum didampingi satu orang wakil bendahara umum. Susunan lengkap dari Kepengurusan Diaspora Aceh Global sebagaimana diumumkan tersebut, sebagai berikut:

Honorary Board (Dewan Kehormatan):

1.   Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.A.L.D.

2.   Gubernur Aceh

3.   Gubernur DKI

4.   Ketua Umum PPTIM

Executive Board (Dewan Pengurus):

1.   Ketua Umum (President ): Dr. Ir. Mustafa Abubakar, MSi.

2.   Wakil Ketua Umum (Vice President) Bidang Diplomasi dan Kerjasama International: Teuku Mohammad Hamzah Thayeb, KCVO

3.   Wakil Ketua Umum (Vice President) Bidang SDM dan Peran Perempuan: Dr. Tjut Rifameutia Umar Ali, M.A., Psi.

4.   Wakil Ketua Umum (Vice President) Bidang Energi dan Sumber Daya Alam: Dr. Ir. Surya Darma, MBA., Dipl. Geotherm. Tech.

5.   Wakil Ketua Umum (Vice President) Bidang Ekonomi dan Industri Kreatif; Joefly Joesoef Bahroeny

6.   Wakil Ketua Umum (Vice President) Bidang Sosial, Kebudayaan dan Demokrasi: Dr. Fachry Ali

7.   Wakil Ketua Umum (Vice President) Bidang Riset & Inovasi Teknologi: Dr. Ir. Hammam Riza Yusuf, M.Sc.

8.   Sekretaris Jenderal: Said Mustafa

9.   Wakil Sekretaris Jenderal : Drs. Zilmahram, Psi., MM.

10. Wakil Sekretaris Jenderal : Said Zaidansyah SH., LLM.

11. Wakil Sekreatris Jenderal : Dr. Umaimah Wahid, MSi.

12. Bendahara Umum : Teuku Anwar Johansyah

13.Wakil Bendahara Umum: Dr. Sharifuddin Husen, M.Ak., M.Si., Ak.CA.

Pendirian organisasi ini bisa menjadi breakhrough (terobosan) kreatif dan produktif, bagi para Diaspora Aceh diseluruh dunia yang dapat bermanfaat dalam memberi makna lebih signifikan dan memberi langkah lebih maju atas situasi Aceh yang damai.

Pada tataran nasional dan global, para diaspora nusantara memang sudah membentuk sebuah organisasi yang bernama Indonesia Diaspora Network Global yang mewadahi berbagai diaporasi di seluruh dunia dengan juga mengakomodir bebrapa diaspora etnis/suku bangsa seperti Jawa Diaspora Network, Minang Diaspora Network, Batak Diaspora Network, Kawanua Diaspora Network dan Maluku Diaspora Network. Sementara itu, belum adanya wadah pemersatu bagi Diaspora Aceh Sejagad sebagai think tanks untuk mengembangkan dan mempromosikan nilai-nilai keAcehan dan ke Indonesiaan pada tataran strategis untuk menjalin persaudaraan, perdamaian, kemanusiaan, sosial dan kebudayaan, demokrasi, inovasi dan adaptasi, kemajuan serta kemakmuran”, memerlukan sebuah kepentingan bersama bahwa masyarakat Aceh melalui TIM untuk membentuk Diaspora Aceh secara Global. DAG dibentuk setelah mempertimbangkan hasil dialog pada acara Halal Bi Halal dan Dialog Diaspora Aceh Sejagad yang dilaksanakan PPTIM pada tanggal 13 Juni 2021 secara virtual yang dihadiri para Diaspora Aceh di seluruh dunia termasuk tokoh nasional seperti  Muhammad Jusuf Kalla, Sofyan A. Djalil, Nova Iriansyah, Anies Baswedan, Zaini Abdullah, Mustafa Abubakar, Bachtiar Ali, Abdullah Puteh, M. Nasir Jamil, A. Farhan Hamid,  Fachrul Razy, Husni Mustafa, Surya Darma, Joefly Bachroeny Fachry Ali, Indra Iskandar, Sfarizal Z.A dan lain-lain. Selain itu juga ada amanat dari dialog Diaspora Aceh Sejagad yang berlangsung secara virtual dari Gedung DPRRI Jakarta dengan membentuk Formatur yang bertugas melakukan pembentukan wadah dan personalia organisasi bagi Diapora Aceh dalam bentuk perencanaan, jaringan dan implementasi kegiatan yang konkrit selama 45 hari. Dari situlah kemudian para Formatur melakukan pertemuan di Jakarta tanggal 25 Juli 2021 serta konsultasi Formatur Diaspora Aceh dengan PPTIM, tanggal 28 Juli 2021 dan 22 Agustus 2021 yang dihadiri oleh Fachry Ali, Joefly Bachroeny dan Umaimah Wahid (Formatur Diaspora Aceh), Surya Darma dan Yusra Huda (PPTIM) dan Mustafa Abubakar (Dewan Kehormatan PPTIM).

Latar belakang: Mengapa Diapora Aceh Global,?

Sampai dengan Halal bi Halal Aceh Sejagad yang diselenggarakan Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PPTIM) pada 13 Juni 2021, kita dikejutkan oleh fakta bahwa tanpa terencana “perantauan” orang-orang Aceh mengalami intensifikasi dan ekstensifikasi sekaligus. Silaturrahim ini adalah inisiatif TIM memanfaatkan perubahan akibat Covid-19 untuk tujuan yang positif, pertemuan Diaspora Aceh di seluruh dunia. Pertemuan pertama para Diaspora Aceh ini dilakukan PPTIM pada 20 Agustus 2020 bertepatan dengan tahun baru Hijriah 1442 H. Kegiatan silaturrahim dipilih pada 1 Hijriah, sebagai momen hijrahnya pola hidup dan pola sikap ke arah yang lebih produktif, efisien dan bermanfaat. Silaturrahim Hijriah saat itu mengangkat tema “Hikmah Covid 19 & Tantangan Bagi Aceh”. Hal ini berarti memanfaatkan momentum tahun baru Hijriah untuk mengubah perilaku masyarakat yang harus beradaptasi dengan kehidupan juga memanfaatkan momentum damai Aceh dan mengisinya dengan berbagai kiprah pembangunan untuk menuju Aceh hebat dan Indonesia maju. Acara yang dikemas virtual dalam format bincang-bincang juga dimanfaatkan sebagai media untuk menyambung silaturrahim sesama warga Aceh baik yang ada dalam lingkungan TIM dengan pemimpinnya di Aceh dan Indonesia, bahkan akan menghubungkan juga dengan berbagai diaspora Aceh di perantauan di seluruh dunia. Karena itu silaturrahim saat itu juga disebut : “Silaturrahim Diaspora Aceh Ban Sigom Donya”. Inilah awal dari intensifikasi dan ekstensifikasi.

Apa yang dimaksudkan dengan intensifikasi ini adalah artikulasi mendalam tiap-tiap anggota perantau Aceh di dalam bidang masing-masing dengan reputasi yang terakui pada publik nasional dan internasional. Ekstensifiksi dalam konteks ini adalah keluasan distribusi geografis para perantau Aceh ke seluruh dunia.

Fakta ini membuktikan secara nyata bahwa dalam situasi merdeka dan damai orang-orang Aceh secara keseluruhan mampu melakoni atau menjalani hal-hal tak terbayangkan sebelumnya. Maka, secara hipotetis bisa dinyatakan bahwa bahkan dalam keadaan tertekan dan terdera konflik yang begitu panjang, orang-orang Aceh secara keseluruhan bukan saja bisa sintas (survive), melainkan mampu memberikan model kreatif dan produktif bagi kehidupan. Maka, pula, andai perdamaian di Aceh telah berlangsung sejak 1873 hingga dewasa ini, dapatkah dibayangkan bagaimana besar artikulasi intensif dan ekstensif orang-orang Aceh bagi pembangunan berkemanusiaan dan perdamaian?

Melalui pertanyaan terakhir inilah dasar gagasan pendirian sebuah organisasi diaspora Aceh “ban sigom donya” yang kemudian diberi nama Diaspora Aceh Global atau disingkat dengan DAG. Bahwa dalam keadaan di mana tiap-tiap anggota perantau Aceh mengambil inisiatif karir dan kehidupan tanpa terorganisasikan (individual-based self-articulation) telah mampu memperlihatkan kinerja terakui tingkat publik luas. Maka secara logika, artikulasi kolektif yang sistematis dan terorganisasikan orang-orang Aceh perantauan ini akan lebih melahirkan pengaruh konstruktif bagi pembangunan baik pada tingkat nasional Indonesia, tingkat wilayah Aceh, regional dan internasional. Melalui koordinasi managerial sistematis DAG, kinerja orang-orang Aceh perantauan akan memperlihatkan dimensi kualitatif tak termaknai di masa depan.

0 Reviews

Write a Review

Said Rulam Fauzi

Read Previous

Tun Sri Lanang

Read Next

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Mengganti Nama Jalan Inspeksi Kalimalang Menjadi Jalan Laksamana Malahayati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *